amateurmelancholjourn

amateurmelancholjourn amateur journalist. melancholic writter. polaroid. :)


twilight. literature. tattoo. theater. toycam. dance. ethnic. beach. coffee. sands. beer. ultramilk. dreamcatcher. novelette. vintage. black. vw. summer. glasses. messy. darkchocolate. sukab. sheila on 7. Jogja.

@dionysiamayangr

INDONESIA

:)

Perkara Tubuh, dan Memiliki #2

Tak butuh lama untuk tahu bahwa ia adalah sosok yang memang pantas dikagumi. Dan manusiawi juga ketika akhirnya tak hanya seorang saja yang begitu ingin memilikinya.

Dalam bentuk ini, begitu mengerikan rasanya ketika engkau begitu membanggakan kehidupan sendirimu, lalu tiba-tiba saja begitu ingin bersama dan memiliki seseorang. Ia menjadi sosok yang benar bagimu dan tepat, tanpa celah untuk dapat melepaskan pandangan darinya barang sekejap.

“Bert, kenapa kamu banyak melamun? Ada sesuatu yang ingin kamu ceritakan padaku?”

“Tidak, Alina. Mungkin aku hanya kurang tidur.”

“Ah, masa sih? Rasanya semalam aku tidur lebih dari 9 jam bahkan.”

Alina. Begitu indah, pun ketika ia tak sadar aku membuat badan ini terjaga dengan memandanginya sepanjang malam, selagi ia terlelap. Memang egois, ketika dengan memandangi dan memiliki perasaan tak menjadi lelah, namun ragamu tiba-tiba kemudian lemas kelelahan.

Mengetahui namanya seperti menjadi jawaban yang datang bahkan sebelum aku tahu ingin bertanya apa. Matanya yang pertama kali acuh memandang tubuh ini, lama-lama memancarkan sinar ingin tahu ia jaga agar tak kentara.

Ia gagal menyembunyikan rasa ingin tahunya pada tubuh ini.

Dan, aku masih gagal untuk bisa benar-benar berbicara padanya.

Perkara Tubuh, dan Memiliki #1

Aku bertahan memandanginya dalam jarak. Bukan dalam jarak yang pasti hingga aku tahu bagaimana hitungan untuk dapat sekadar bersentuhan dengan kulitnya, namun dengan jarak yang bahkan belum dapat dihitung dengan rumus kecepatan mana pun. Lewat mata ini saja akhirnya aku dapat selalu memilikinya dalam pandangan. 

Sebenarnya kalau bisa tak ingin mata ini berkerjap barang sepersekian detik saja, namun rasanya tubuh ini terlalu lemah; debu lah, pedih lah, dan lain-lain. Lalu juga, kalau bisa aku tak mau kehilangan dia, yang selalu suka -mungkin juga sengaja untuk mencandai tubuh ini- menghilang dan berlagak misterius.

Seberapa cemasnya aku hingga mungkin dari mata kau pun tahu aku mencari-cari, aku akan selalu senang dan memaafkan segala lakunya, aku tahu dia terlalu riang dan aku juga tak ingin menyinggungnya.

"Selamat pagi, Bert! Siang ini kamu mau makan apa? Giliranmu untuk menentukan kita makan apa hari ini!" Serunya manja sambil memamerkan lesung pipit mungil pipinya yang tak malu-malu muncul.

Ah, andai saja dia tahu ada aku, mungkin saja dia akan menyapaku dan aku bisa memiliki pandangan mata hangatnya, pun senyum manisnya.

"(sendiri)"

"kesedihan paling dalam bukanlah saat kau bisa menangis dan bersandar lalu membagikan sedikit atau segala ceritamu; yang terdalam ialah ketika bahkan kau hanya menyudahi tangismu dengan diammu sendiri."

Thank you, for keeping an “I” in the “we”. 

Analogikan dengan mistar;

sepanjang apa waktu bisa dihitung?

dan kalaupun bisa, punya satuan apakah jarak itu?

Katanya, mencintai air itu harus menjadi ricik.

Tanpa perlu memaksa setiap sel tubuhku, aku memang ingin menguap begitu saja, lalu akhirnya nanti berkumpul jadi segeromboilan awan yang lalu memuntahkan hujan.

lalu rintik pun tak ubahnya dengan ricik.

Dengan begitu tiap bagianku bisa menyatu, atau setidaknya kucoba satukan dengan bagianmu. 

Setelah itu bisa kuikuti untuk mengalir bersama, mengikuti gravitasi, dan kemudian menemukan kedalaman yang selalu kamu cari.

palung di mana gelapnya memang kamu mau.

"Ah entahlah. Bukankah manusia itu pasti saling berhubungan ya? Lantas kenapa selalu ada yang seolah tak membuat manusia seolah seharusnya tak berhubungan?
Ah, entahlah.."

Sementara
FLOAT

Sementara, lupakanlah rindu

Sadarlah hatiku, hanya ada kau dan aku

Dan sementara, akan kukarang cerita

Tentang mimpi jadi nyata

Untuk asa kita berdua…

 

Percayalah hati lebih dari ini pernah kita lalui.

Nah. Ini saya, kemarinnya kemarin lusa. Iseng saja pajang foto ini, lebih-lebih ini pertama kalinya saya ikut pemilu presiden. Dan tidak golput. Meskipun dulu kedengarannya keren buat golput. Lagipula trendnya begitu: anak muda ya golput, tidak percaya dengan (calon) pemerintah yang jadi pilihan pencoblosan.
Memang sepertinya seru, ketika kamu ditanya, “Pilih siapa?” dan lalu cuma saya jawab, “Milih? Golput dong.”
Namun ternyata, punya pilihan di pemilu presiden pertama yang saya ikuti ini lebih keren daripada tidak memilih. 
Saya bisa bangga menjawab tanpa banyak pikir ini-itu, “Milih siapa?” dan jawabku, “Nomor dua dong.”
Lalu jawaban yang saya sudah siapkan apabila ditanya apa alasannya,
"Karena saya lebih percaya pada dia yang begitu menghormati kemanusiaan, tanpa perlu meninggikan diri karena sama sebagai manusia."
Salam dua jari! 
Doa (versi) saya selalu mengiring, masih akan mengawal sampai suara saya dan semua benar-benar sampai tanpa rekayasa (lagi), dan kemudian akhirnya kita semua bisa menyebut,
"Presiden Republik Indonesia ke-7, Joko Widodo dan Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla"
Sekali lagi, salam dua jari!


Nb: fokus saja pada dua jari, bukan pada bagian fisik yang lain ya. ;)

Nah. Ini saya, kemarinnya kemarin lusa. Iseng saja pajang foto ini, lebih-lebih ini pertama kalinya saya ikut pemilu presiden. Dan tidak golput. Meskipun dulu kedengarannya keren buat golput. Lagipula trendnya begitu: anak muda ya golput, tidak percaya dengan (calon) pemerintah yang jadi pilihan pencoblosan.

Memang sepertinya seru, ketika kamu ditanya, “Pilih siapa?” dan lalu cuma saya jawab, “Milih? Golput dong.”

Namun ternyata, punya pilihan di pemilu presiden pertama yang saya ikuti ini lebih keren daripada tidak memilih. 

Saya bisa bangga menjawab tanpa banyak pikir ini-itu, “Milih siapa?” dan jawabku, “Nomor dua dong.”

Lalu jawaban yang saya sudah siapkan apabila ditanya apa alasannya,

"Karena saya lebih percaya pada dia yang begitu menghormati kemanusiaan, tanpa perlu meninggikan diri karena sama sebagai manusia."

Salam dua jari! 

Doa (versi) saya selalu mengiring, masih akan mengawal sampai suara saya dan semua benar-benar sampai tanpa rekayasa (lagi), dan kemudian akhirnya kita semua bisa menyebut,

"Presiden Republik Indonesia ke-7, Joko Widodo dan Wakil Presiden Republik Indonesia, Jusuf Kalla"

Sekali lagi, salam dua jari!

Nb: fokus saja pada dua jari, bukan pada bagian fisik yang lain ya. ;)

Kenapa

  • Api: Kenapa kamu bisa suka?
  • Air: Kenapa harus dipertanyakan?
  • Api: Kenapa tidak harus dipertanyakan?
  • Air: Kenapa alasan suka dipertanyakan?
  • Api: Kenapa tidak bisa bertanya alasan suka?
  • Air: Kenapa suka harus ada alasan?
  • Api: Kenapa tidak ada alasannya?
  • Air: Kenapa kamu begitu ingin tahu?
  • Api: Kenapa kamu tak jawab saja?
  • Air: Karena suka tak butuh alasan. Karena ketika suka punya alasan, maka akan banyak alasan untuk tak suka. Dan aku tak mau ada alasan untuk tak suka kamu.

Masih ada kalau mau mampir, jangan tiba-tiba lenyap kalau cuma maumu.

Jangan acuh pada yang selintas. Nyatanya yang sering dirindulah yang tiba-tiba muncul dan seketika itu pula beranjak.

tanpa sampai jumpa.

Jangan acuh pada yang selintas. Nyatanya yang sering dirindulah yang tiba-tiba muncul dan seketika itu pula beranjak.

tanpa sampai jumpa.

"Sesederhana menghembus nafas, demikian pula ketika kamu cenderung untuk berlalu seperti biasa."

lalu jangan cari aku di belakang.